Search

Deretan Marquee Player Ini yang Paling Menawan di Liga 1

Tatkala rumor merebak bahwa Mitra Kukar akan merekrut Momo Sissoko sebagai marquee player, publik menyangsikan. Baru dua musim lalu namanya masih beredar di Liga Spanyol dengan membela Levante. Mantan pemain timnas Mali itu juga pernah membela beberapa klub elite.
Valencia, Liverpool, Juventus, dan Paris Saint-Germain (PSG) merupakan beberapa klub elite yang pernah memakai tenaganya. Tapi, dia akan merapat ke Mitra Kukar. Dan ternyata rumor itu menjadi kenyataan: Sissoko benar-benar berkostum Mitra Kukar.

Di Mitra Kukar, Sissoko benar-benar memberi warna. Dengan usia yang masih 32 tahun, belum tua-tua amat untuk ukuran pemain sepak bola profesional saat ini, skill-nya masih mantap.

Faktanya, meski berposisi sebagai gelandang bertahan, kontribusinya terhadap serangan Mitra Kukar begitu besar. Sissoko menjadi pencetak gol terbanyak kedua di klub berjuluk Naga Mekes itu dengan empat gol. Hanya kalah banyak oleh striker asal Brasil Marclei.

Pelatih Mitra Kukar Jafri Sastra menjelaskan, Sissoko merupakan tipe pemain lengkap. Dia bisa mengerti apa yang diinginkan pelatih dan tim. ”Dia juga bisa berkreasi saat tim membutuhkannya. Skill-nya sangat bagus dan mumpuni sebagai pemain kelas dunia,” ujarnya.

Jafri sengaja memberikan porsi lebih kepada Sissoko. Dia memang disiapkan sebagai solusi dari lini kedua apabila barisan penyerang mengalami kebuntuan. ”Hasilnya luar biasa. Sissoko bisa menjawab kepercayaan itu dengan baik,” terang mantan pelatih Persipura Jayapura tersebut.

Ya, ketika Marclei, yang merupakan target man utama Mitra Kukar, dijaga ketat, Sissoko sering kali menjadi solusi. Keunggulan dalam duel udara ketika bola mati dan umpan silang plus tembakan jarak jauhnya yang kencang membuat lawan kelimpungan.

Marquee player lainnya yang layak disebut sebagai the real marquee player adalah Wiljan Pluim. Memang dia tidak direkrut sejak awal dengan status marquee player. Dia bergabung dengan PSM Makassar sejak musim lalu, ketika bermain di ISC A.

Nah, ketika era marquee player diberlakukan pada awal musim ini, pelatih PSM Robert Rene Alberts menaikkan statusnya. Itu tentu terjadi karena dia punya reputasi bagus. Dia pernah membela beberapa klub Eredivisie Belanda seperti Vitesse Arnhem, Roda JC, dan Willem II.

Tidak salah keputusan Alberts. Tokcer betul performa pemain berusia 28 tahun itu. Dengan berposisi sebagai gelandang serang, dia menjadi salah satu kunci utama klub berjuluk Pasukan Ramang itu untuk konsisten berada di puncak klasemen Liga 1. Dalam 11 pekan yang telah berlalu, Pluim telah mencetak 3 gol dan 3 assist.

Namun, itu tidak terwujud begitu saja. Ada prosesnya. Ketika baru bergabung, Pluim sulit beradaptasi. Cuaca panas di Makassar membuat dia kesulitan. Fisiknya cepat drop. ”Tapi, coach Robert (Rene Alberts, Red) hebat, sama-sama dari Belanda serta mengerti apa keinginan dan kemampuan saya,” jelas Pluim.

Kompetisi memang masih panjang. Tapi, kolaborasinya dengan Marc Klok di lini tengah dan Reinaldo Elias di lini depan sudah begitu padu serta menjadi ancaman bagi pertahanan lawan. Bahkan, kolaborasi lini tengah Pluim dan Klok tercatat sebagai yang menghasilkan peluang paling banyak di Liga 1.

Lalu, kalau bicara tentang marquee player yang paling on fire, nama Peter Odemwingie adalah yang terbaik sementara ini. Reputasinya sebagai mantan kapten timnas Nigeria serta pemain beberapa klub Premier League seperti Stoke City, Cardiff City, dan West Brom Albion bukan omong besar.

Dia menjadi pemain dengan tembakan terbanyak sekaligus gol terbanyak di Liga 1. Dia mencetak sembilan gol. ”Kualitasnya masih terjaga meski sudah memasuki usia 35 tahun. Kehadirannya di lapangan juga bisa meningkatkan kepercayaan diri pemain lain,” kata pelatih Madura United Gomes de Olivera.

Pujian Gomes tidak berlebihan. ”Kualitasnya memang bagus, apalagi bisa menjaga kondisi fisik tetap prima meski berusia 35 tahun,” kata Slamet Nurcahyo, playmaker Madura United.

Kendati sudah klik dengan Odemwingie, Slamet merasa masih ada satu kendala, yakni bahasa. ”Memang agak kesulitan kalau ingin ngobrol atau diskusi. Tapi, semuanya bisa teratasi. Sebab, kami menggunakan bahasa bola. Dia juga langsung paham. Akhirnya, kami saling mengisi di lapangan,” jelasnya.